x

Kekurangan Dokter dan Obat di Muara Ancalong Kian Mendesak, Masyarakat Terpaksa Berobat ke Luar Daerah

waktu baca 2 menit
Jumat, 5 Des 2025 12:41 73 AH

madanimail.id, KUTIM – Pelayanan kesehatan di Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menjadi sorotan setelah Puskesmas setempat dilaporkan masih kekurangan tenaga dokter dan menghadapi keterbatasan obat-obatan. Persoalan ini dinilai telah berlangsung lama tanpa solusi komprehensif.

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid, mengungkapkan bahwa minimnya tenaga medis tidak hanya terjadi di Puskesmas Muara Ancalong, tetapi juga di RSUD Muara Bengkal yang seharusnya menjadi rumah sakit rujukan bagi masyarakat wilayah hulu.

“Tenaga kesehatan, khususnya dokternya itu masih kurang. Dokter-dokternya itu masih kurang,” tegasnya.

Selain kekurangan SDM, keterbatasan obat-obatan juga menjadi hambatan serius. Stok obat yang tersedia sebagian besar merupakan obat generik, sementara obat paten atau obat khusus sangat terbatas.

“Kemudian yang kurang lagi itu terkadang obat-obatannya. Biasanya lebih ke obat-obatan yang kurang paten, obat-obatan yang biasa-biasa saja. Mau tidak mau karena memang keterbatasan obat,” jelas Harun, Jum’at (5/12/2025).

Harun menyebut salah satu penyebab minimnya dokter adalah kondisi geografis serta kecilnya peluang tenaga medis mendapatkan penghasilan tambahan. Berbeda dengan Sangatta yang memiliki banyak rumah sakit dan klinik, Muara Ancalong hanya memiliki sedikit fasilitas kesehatan.

“Kalau misalnya mereka itu cuma di satu tempat, dari segi penghasilan tuh kurang. Di daerah kami ini sangat sedikit tempat-tempat rumah sakit, enggak kayak di Sangatta,” ujarnya.

Ia mencontohkan bahwa dokter di Sangatta bisa merangkap praktik di berbagai fasilitas seperti RS UDE, RS Meloy, UPTD, hingga SOAC, sesuatu yang tidak memungkinkan dilakukan dokter di wilayah hulu. Kondisi ini membuat dokter, terutama dokter spesialis, kurang tertarik bertugas di Muara Ancalong.

Dinas Kesehatan, kata Harun, sebenarnya telah berupaya menambah tenaga medis, namun implementasinya masih belum maksimal. Menurutnya, diperlukan kebijakan khusus seperti insentif tambahan atau skema penghasilan menarik untuk memancing minat dokter bertugas di wilayah terpencil.

“Solusinya pasti ada, hanya saja bagaimana kita menarik minat dokter-dokter bekerja di daerah kami,” ujarnya.

Dampak dari keterbatasan layanan kesehatan ini sangat dirasakan masyarakat. Banyak warga terpaksa berobat ke Sangatta, bahkan hingga Samarinda dan Balikpapan, yang membutuhkan biaya besar serta memunculkan risiko keterlambatan penanganan medis.

Harun mengakui bahwa program Dokter Share yang berjalan beberapa waktu terakhir cukup membantu, namun tetap tidak mampu menjawab kebutuhan wilayah secara permanen.

“Masyarakat butuh solusi tetap, bukan sekadar pelayanan temporer,” tegasnya.

Ia berharap Pemkab Kutim memberikan perhatian dan kebijakan yang lebih serius agar pelayanan kesehatan di Muara Ancalong dapat meningkat signifikan dan tidak lagi tertinggal dari kecamatan lainnya. (M/ADV/SR)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x