
SAMARINDA – Majelis Wilayah (MW) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) mengadakan silaturahmi dan dialog kebangsaan yang bertajuk temu kangen bersama salah satu alumni HMI, Anas Urbaningrum di Sekretariat KAHMI jalan Angklung, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia pada Minggu 16 Juli 2023.

Acara tersebut dihadiri kurang lebih 100 orang yang terdiri dari pengurus MW KAHMI Kaltim, Majelis Daerah (MD) KAHMI Samarinda, Forum Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Forhati) Kaltim, Samarinda, pengurus Cabang Samarinda, dan pengurus Komisariat dilingkungan HMI Samarinda.
Presidium Majelis Nasional (MN) KAHMI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda juga turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia yang selaku anggota (DPR) Republik Indonesia (RI) komisi II dari fraksi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan ini memberikan sedikit dialog kebangsaan.
Alumni HMI, Anas Urbaningrum, menyampaikan dalam silaturahmi yang digelar bahwa kehadirannya ini merupakan kebersamaan sesama kader, dan kedepannya agar mampu berkiprah ke dimensi yang lebih baik lagi. Khususnya Kalimantan Timur dalam menyambut Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

“saya bersyukur telah kembali ke Samarinda, dan menjalin ikatan batin kita dari senior ke junior,” ucapnya saat dialog berlangsung, Minggu (16/07/2023).
“Ikatan batin itu lahir secara otentik, lahir dari proses kita semua dengan segala dinamikanya dari manis, pahit, dan getir.
Melahirkan warna-warna relasi yang tidak bermakna negatif, saya hadir menjadi bagian dari itu,” lanjutnya.
Menjelang momentum 2024, Anas menerangkan tentang pola kompetisi politik, polanya itu hampir sama seperti peristiwa 2019 lalu. Menurutnya, jika dibaca pelan-pelan yang terjadi saat itu bisa dilacak sangat kebelakang, pemilu yang terjadi bahkan pemilu di tahun 1955.
“Makanya apa banyak yang berubah detailnya, gambar besarnya hampir bertahan, yang berubah gambar besarnya yg berubah adalah ketika partai komunis dibubarkan tahun 66,” ungkapnya.
Lanjut, kata dia, Kalo dilihat peta politik secara nasional, bisa dilihat peta suaranya akan berbeda. Kalsel, Kaltim, Sulsel, Sulteng, polanya agak mirip, Pola seperti itu akan bertahan nanti di 2024.
“Kita masih menunggu di 2024 calon kandidat nya ada berapa” ujarnya.
Dengan demikian, terkait posisi KAHMI itu ikatannya aspiratif bukan ikatan politik. Justru yang harus dipikirkan bagaimana KAHMI merumuskan platform Indoensia dimasa depan. Merumuskan dan merekomendasikan hal-hal pokok oleh pemimpin yang akan datang, berdasarkan evaluasi dan apa yang menjadi prioritas pada priode 5 tahunan.
Oleh karena itu, apa yang harus di kerjakan di IKN Nusantara yang berbasis pada keadaan objektif di Kalimantan timur. Pikiran-pikiran itu bisa disampaikan menjadi bahan di majelis KAHMI Nasional, karena ini pilihan strategis dan realistis untuk 5 tahun ke depan. “Agar IKN punya dampak lokal, regional kepada masyarakat” jelasnya.
“Bentuk sukses dari KAHMI itu bukan hanya mendorong dan mempromosikan kadernyaa untuk mengambil peran dan tanggung jawab politik, ekonomi, akademi, serta intelek. Tapi bagaimana kemudian memberikan peran langsung memastikan sumber mata air perkaderan umat dan bangsa mengalir dengan jernih,” tutupnya.

Tidak ada komentar