x

Anggaran Terbatas Hambat Pengembangan Ekraf Kutim, Program Prioritas Jadi Fokus Utama

waktu baca 2 menit
Kamis, 27 Nov 2025 14:45 29 AH

madanimail.id, KUTIM – Keterbatasan anggaran kembali menjadi tantangan utama dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif (Ekraf) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Tahun ini, Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata (Dispar) Kutim hanya mampu menjalankan program-program prioritas, sementara sejumlah kegiatan teknis terpaksa ditunda karena minimnya biaya operasional.

Kabid Ekraf Dispar Kutim, Ahmad Rifani, menegaskan bahwa anggaran memegang peran penting dalam hampir seluruh aktivitas pengembangan Ekraf, mulai dari fasilitasi hak cipta, pelatihan, pendampingan pelaku kreatif, hingga penyelenggaraan festival.

“Kita ini ibarat motor lengkap, ada suratnya, tapi bensinnya tidak ada. Operasional itu yang paling menentukan,” ujarnya, Kamis (27/11/2025)

Rifani menjelaskan, kondisi keuangan daerah yang tengah berhemat membuat tidak semua subsektor kreatif dapat difasilitasi setiap tahun. Akibatnya, penguatan data pelaku, pelatihan lanjutan, hingga dukungan peralatan harus dikurangi skalanya. Padahal Kutai Timur memiliki tujuh subsektor kreatif yang terus berkembang mulai dari musik, film, fotografi, arsitektur, seni rupa, kriya, hingga fashion yang semuanya memerlukan dukungan pendanaan berbeda untuk bisa tumbuh.

Di tengah keterbatasan anggaran, persoalan lain yang ikut menghambat ialah rendahnya partisipasi pelaku kreatif dalam proses pendataan. Minimnya pengisian formulir digital membuat identifikasi kebutuhan subsektor berjalan lambat, sehingga penyusunan prioritas program belum dapat dilakukan secara menyeluruh. Kondisi ini juga menyebabkan beberapa kegiatan yang membutuhkan data kuat tidak bisa dijalankan secara maksimal.

Meski begitu, Rifani menyebut masih ada peluang mendapatkan bantuan peralatan maupun pelatihan dari kementerian, selama pengajuan yang dilakukan didukung data yang solid dan sesuai kebutuhan di lapangan.

“Kita tetap bergerak, tapi harus realistis. Dengan anggaran yang terbatas, mana kegiatan yang paling berdampak itu yang kita dahulukan,” katanya.

Bidang Ekraf Kutim berharap dukungan anggaran dari pemerintah daerah dapat ditingkatkan pada tahun mendatang. Rifani menilai, dengan pendanaan yang lebih memadai, pelaku kreatif di Kutai Timur tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat berkembang menjadi sektor ekonomi baru yang mandiri, produktif, dan kompetitif. (M/ADV/SR)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x