x

Disdikbud Kutim Tegaskan Komitmen Sekolah Tanpa Kekerasan di Tengah Maraknya Kasus Nasional

waktu baca 2 menit
Senin, 17 Nov 2025 11:27 37 AH

madanimail.id, KUTIM – Di tengah maraknya pemberitaan kasus kekerasan di lingkungan sekolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim) menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh proses belajar mengajar berlangsung tanpa kekerasan, baik fisik maupun verbal.

Isu ini kembali menjadi perhatian publik setelah insiden di SMA Negeri 1 Cimarga, Banten, di mana seorang guru dilaporkan ke polisi karena menampar siswa yang kedapatan merokok. Berbeda dengan sejumlah daerah lain, Kutai Timur hingga kini belum pernah mencatat kasus serupa. Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan bahwa sekolah di wilayahnya harus menjadi ruang aman bagi peserta didik.

“Tentu diharapkan guru-guru kita bisa menyesuaikan dengan situasi itu. Mengajar kan tidak harus dengan kekerasan,” ujarnya saat ditemui, Senin, (17/11/2025).

Menurut Mulyono, sejauh ini tidak ada laporan resmi terkait tindak kekerasan antara guru dan siswa di Kutim.

“Kalau di Kutai Timur sendiri rasa-rasanya hampir enggak ada. Laporan langsung ke sini juga tidak ada, dan belum pernah muncul di media kasus seperti itu,” jelasnya.

Ia mengakui pernah ada insiden kecil yang melibatkan guru dan siswa, namun semuanya dapat diselesaikan secara kekeluargaan tanpa perlu melibatkan proses hukum.

“Pernah sih kecil-kecil, misalnya menyentil anak. Tapi akhirnya bisa kita selesaikan, tidak sampai muncul ke permukaan,” tambahnya.

Meski begitu, Disdikbud tetap menyiapkan langkah antisipatif jika suatu saat terjadi konflik serupa. Pendekatan restorative justice atau keadilan restoratif akan diutamakan dalam penyelesaian masalah.

“Kita pasti mengupayakan solusi damai terlebih dahulu. Sekarang ini kan ada istilah hukuman dengan restorasi, mediasi, dan penyelesaian damai. Itu yang kita kedepankan,” tegasnya.

Mulyono menilai rendahnya angka kekerasan di sekolah menjadi indikator meningkatnya kesadaran guru dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan humanis. Namun ia mengingatkan bahwa kekhilafan tetap bisa terjadi karena faktor manusiawi.

“Guru juga manusia. Kadang ada khilafnya, tapi yang penting bisa diselesaikan dengan baik. Kita semua tentu tidak ingin ada kekerasan di sekolah,” katanya.

Ia juga memastikan bahwa para guru tidak memiliki keluhan terhadap kebijakan pembelajaran tanpa kekerasan. Menurutnya, para pendidik sudah mampu beradaptasi dengan aturan yang berlaku.

“Mungkin ada perasaan susah dalam mendidik di tengah aturan yang ketat, tapi sejauh ini tidak ada keluhan resmi. Guru-guru kita sudah bisa menyesuaikan,” pungkasnya. (M/ADV/SR)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x