
Wakil Ketua III DPRD Kota Samarinda, Subandi Samarinda – Wakil Ketua III DPRD Kota Samarinda, Subandi mengutarakan kekhawatiran terhadap rencana Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) yang mengusulkan pergantian seragam untuk siswa SD, SMP, dan SMA pada tahun 2024 ini.

Subandi mengingatkan akan potensi risiko sosial dan ekonomi yang mungkin timbul akibat perubahan tersebut.
Rencana pergantian seragam sekolah tersebut didasari oleh tujuan untuk menanamkan nasionalisme, kedisiplinan, dan meningkatkan citra sekolah. Namun, Subandi menyoroti bahwa perubahan total seragam bisa mengganggu suasana kondusif di lingkungan sekolah.
“Saya memahami niat baik di balik rencana ini, tetapi saya memiliki kekhawatiran terhadap penggunaan pakaian adat sebagai seragam sekolah,” ungkap Subandi, menekankan potensi beban tambahan biaya bagi siswa dan orang tua.

Sebagai politikus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Subandi memprediksi bahwa penggunaan pakaian adat sebagai seragam sekolah dapat memberatkan siswa di daerah pelosok dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.
“Dengan harga pakaian adat yang mahal, ini bisa menjadi beban bagi siswa dan orang tua di daerah dengan perekonomian menengah ke bawah,” jelasnya.
Mengingat hal ini, Subandi mendorong agar rencana pergantian seragam sekolah ditinjau ulang dengan mempertimbangkan berbagai aspek, terutama kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di berbagai daerah.
“Bagaimana dengan anak-anak di pelosok yang perekonomiannya menengah ke bawah? Perlu dipertimbangkan secara lebih mendalam,” tambahnya.
Pernyataan Subandi mencerminkan keprihatinan akan konsekuensi sosial dan ekonomi dari pergantian seragam sekolah serta menekankan perlunya mempertimbangkan keberagaman kondisi sosial dan ekonomi masyarakat dalam kebijakan pendidikan nasional.
(Adv/DPRDSamarinda)

Tidak ada komentar