
SAMARINDA – Ratusan Driver yang tergabung dalam komunitas Bubuhan Driver Gojek Samarinda (Budgos) geruduk kantor Gojek Samarinda dengan membawa beberapa tuntutan pada Senin, 24 Juli 2023.

Ketua Budgos Samarinda, Ivan Jaya menerangkan sesuai dengan aturan dari kementerian perhubungan, KP Nomor 1001 tahun 2022. Tentang ketentuan perusahaan aplikasi menerapkan biaya tidak langsung, berupa biaya sewa penggunaan aplikasi paling tinggi 15 persen.
“Diputuskan oleh pemerintah bahwa potongan yang diambil dari aplikasi wajib dialokasikan 5 persen untuk menunjang operasional driver, cuman fakta dilapangan setelah diputuskan aplikator tidak menerapkan secara maksimal,” ucapnya.
Tuntutan lainnya seperti, benahi penjemputan orderan yang sangat jauh, Hapuskan program doble order – ongkir 2 ribu, alokasi pembagian order yang asli dan merata, dan kembalikan tarif ongkir tambahan untuk driver. Itu juga menjadi perhatian bagi aplikator untuk segera dibenahi.

Dalam aksi demonstrasi tersebut, ada 35 Koordinator Wilayah (Korwil) yang tergabung. sekitar 80 persen driver mogok kerja, 20 persen lainnya tetap melakukan aktivitasnya.
“Yah 20 persen ini yang kemudian lambat mengakses informasi, beberapa juga ada yang kontra terhadap gerakan ini, pungkasnya.
Dengan banyaknya persaingan usaha dan bagaimana internal di gojek ini penuh dengan investasi dari luar. Ditambah lagi setelah di tinggal oleh pendirinya, Nadiem Makarim, manajemen aplikator ini semakin runyam.
“Harapannya kita gojek kembali ketitahnya sebagai aplikasi kebanggaan karya anak bangsa, artinya tujuan awal mulanya punya impack kepada masyarakat dan terkhususnya kepada mitra kerjanya seperti kami sebagai driver,” tegasnya.
Oleh karena itu, aksi dan mogok kerja yang sebelumnya di rencanakan akan dilakukan selama 3 hari, kini pihak Budgos hanya melakukan di hari ini. Lantaran tuntutan disambut dengan baik dan akan di proses oleh pihak manajemen aplikator.

Tidak ada komentar