
Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Sani Bin Husain Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, Sani Bin Husain mendesak pemerintah untuk serius menangani masalah stunting. Dia menekankan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang besar akan sia-sia jika anak-anak mengalami kekurangan gizi.

“Apa gunanya memiliki APBD yang tinggi jika anak-anak mengalami kekurangan gizi? Itu tidak berarti. Tetapi ketika berbicara tentang stunting, jangan berpikir secara langsung atau sebagian,” ujar Sani.
Menurutnya, mencegah atau mengatasi stunting tidak semudah hanya memberikan nasi dan telur. Sani menegaskan bahwa beberapa faktor berkontribusi terhadap stunting, termasuk pernikahan dini, di mana ibu muda, dikombinasikan dengan kondisi ekonomi rumah tangga yang rendah.
“Kondisi ekonomi rumah tangga, misalnya jika suami tidak bekerja, dapat menyebabkan stunting. Karena setiap hari selama kehamilan, mungkin mereka hanya makan mi instan, kekurangan gizi,” jelasnya.

Langkah selanjutnya bisa melibatkan edukasi kepada remaja perempuan untuk mengonsumsi suplemen zat besi. Dari sudut pandang ini, Sani menegaskan bahwa stunting membutuhkan perhatian dari semua sektor.
Komando utama untuk mengatasi dan mencegah stunting terletak pada kepemimpinan daerah. Namun, dia ragu untuk memberikan target akhir tahun.
“Komando harus datang dari walikota kita, mari kita lihat bersama-sama pada akhir 2024, apakah jumlahnya berkurang atau bertambah. Saya juga penasaran, tetapi untuk saat ini, mari kita tunggu hasilnya. Karena saya tidak bisa menjawab sekarang,” paparnya.
Sani menilai bahwa isu paling krusial yang harus dicegah adalah pernikahan dini, yang menurutnya memiliki dampak signifikan. Remaja yang belum siap hamil mungkin hamil secara tidak disengaja.
Pengajaran dan masalah terkait kehamilan di luar nikah juga harus ditangani dengan lebih serius. Biasanya, wanita yang lebih merasakan tekanan daripada pria. “Saya menyebut ini sebagai GBHN, atau Gawi Bedahulu Hanyar Nikah. Ibu menjadi stres, tidak siap melahirkan, kemudian anak dibiarkan, dan suami tidak bekerja,” tegasnya.
Sani menegaskan bahwa bukan hanya orang tua, tetapi semua pihak harus mengatasi kenakalan remaja, pernikahan dini, dan masalah stunting.
(Adv/DPRDSamarinda)

Tidak ada komentar